<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" ID="10804">
<titleInfo>
<title><![CDATA[Peran Mosa Sebagai Pemangku Adat Dalam Penyelesaian Kasus La’a Sala Dalam Praktek Perkawinan Masyarakat Adat Di Desa Ratogesa, Kecamatan Golewa, Kabupaten Ngada]]></title>
</titleInfo>
<name type="Personal Name" authority="">
<namePart>KRISTINA DHONE</namePart>
<role><roleTerm type="text">Pengarang</roleTerm></role>
</name>
<name type="Personal Name" authority="">
<namePart>AGUSTINUS HEDEWATA</namePart>
<role><roleTerm type="text">Dosen Pembimbing 1</roleTerm></role>
</name>
<name type="Personal Name" authority="">
<namePart>DARIUS MAURITSIUS</namePart>
<role><roleTerm type="text">Dosen Pembimbing 2</roleTerm></role>
</name>
<name type="Personal Name">
<namePart>Sukardan Aloysius</namePart>
<role><roleTerm type="text">Ketua Penguji</roleTerm></role>
</name>
<name type="Personal Name">
<namePart>Darius Mauritsius</namePart>
<role><roleTerm type="text">Penguji 2</roleTerm></role>
</name>
<typeOfResource manuscript="yes" collection="yes"><![CDATA[mixed material]]></typeOfResource>
<genre authority="marcgt"><![CDATA[bibliography]]></genre>
<originInfo>
<place><placeTerm type="text"><![CDATA[Kupang]]></placeTerm></place>
<publisher><![CDATA[UPT Perpustakaan Undana]]></publisher>
<dateIssued><![CDATA[2023]]></dateIssued>
<issuance><![CDATA[monographic]]></issuance>
<edition><![CDATA[Published]]></edition>
</originInfo>
<language>
<languageTerm type="code"><![CDATA[id]]></languageTerm>
<languageTerm type="text"><![CDATA[Indonesia]]></languageTerm>
</language>
<itemType>
<itemTypeTerm type="code"><![CDATA[]]></itemTypeTerm>
<itemTypeTerm type="text"><![CDATA[]]></itemTypeTerm>
</itemType>
<copyright>
<copyrightTerm type="code"><![CDATA[6]]></copyrightTerm>
<copyrightTerm type="text"><![CDATA[Individu Penulis]]></copyrightTerm>
</copyright>
<physicalDescription>
<form authority="gmd"><![CDATA[Skripsi]]></form>
<extent><![CDATA[]]></extent>
</physicalDescription>
<note>Peran Mosa sebagai pemangku adat dalam peneyelesaian kasus la’a sala dalam praktek perkawinan masyarakat adat  adalah sebagai  hakim perdamain dan juga pengambil keputusan  adat  serta menciptakan kerukunan dalam lingkungan masyarakat adat  yang mana harus mengedepankan  3 sifat yaitu menjaga keamanan masyarakat sesuku,  memelihara kedamaian  diantara  rakyat sesuku  serta memelihara kedamaian diantara rakyat sesuku serta derajat dan kepercayaan didaerah tersebut, menetapkan  dan memutuskan peraturan hukum adat yang mengikat pihak-pihak yang bersengketa, mengayomi seluruh masyarakat adat dalam penyelesaian kasus la’a sala dalam Praktek perkawinan masyarakat adat, mencari solusi dalam penyelesaian kasus la’a sala dalam Praktek perkawinan masyarakat ada, mengkoordinir para ketua soma dalam penyelesaian kasus la’a sala dalam Praktek perkawinan masyarakat adat, mencaritahu kedekatan atau ikatan keluarga dari kedua belah pihak dalam kasus la’a sala. Hambatan-hambatan  yang sering terjadi dalam penyelesaian kasus la’a sala adalah minimnya pengetahuan keduabelah pihak tentang sanksi adat dan kedekatan hubungan keluarga secara biologis, moral seksual dan kuranngnya pemahaman tentang moral serta.minimnya tingkat pendapatan pendapatan masyarakat setempat. Hambatan yang dialami mosa yang dianggap sebagai promotor penyelesaian kasus la’a sala  adalah  keduabelah pihak melalaikan  kesalahan  atau kekeliruan adanya kasus yang dibuat dan pada umumnya  generasi muda  mengabaikan aturan  atau kebiasaan sesuai adat istiadat serta kurangnya pedoman untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat adat terkait adanya sikap menghargai . Solusinya , bahwa mosa diharuskan  memberikan penegasan  atau penjelasan  kepada anak-anak muda  agar  dapat memahami procedural adat dan hal-hal urgen yang perlu diimplementasikan dalam kehidupan yang nyata sehingga hal yang menjadi kelemahan dari setiap mosa diminimalisir  serta pemberian pemahaman dari tokoh adat tentang perkawinan  sedarah perlu  dimaknai sebagai manifestasi atas peran sebagai mosa yang dikatakan sebagai pemangku adat dan pelaksanaannya  dapat dicermati dengan baik oleh seluruh elemen masyarakat sehingga tidak menimbulkan kesan dan asumsi yang berujung pada ketidakpastian , ketidaksadaran moral, kepekaan sebagai manusia yang lahir atas dasar persaudaraan yang berdiri dan lahir dari suatu budaya tertentu. Halangan perkawinan berdasarkan  hubungan darah terdapat  antara anak-anak, orang tua dan kakek nenek dala semua tingkatan pada garis darah. 

Kata Kunci : Peran Mosa, La’a Sala, Masyrakat Adat.</note>
<classification><![CDATA[742.01]]></classification><ministry><![CDATA[74201]]></ministry><studentID><![CDATA[1902010090]]></studentID><identifier type="isbn"><![CDATA[20221221]]></identifier><departementID><![CDATA[Ilmu Hukum]]></departementID><urlCrossref><![CDATA[]]></urlCrossref><location>
<physicalLocation><![CDATA[Setiadi Repository UPT Perpustakaan Undana]]></physicalLocation>
<shelfLocator><![CDATA[742.01 DHO P]]></shelfLocator>
</location>
<slims:digitals>
<slims:digital_item id="14081" url="" path="/74201-S1-1902010090-2023-SKRIPSI.pdf" mimetype="application/pdf"><![CDATA[Peran Mosa Sebagai Pemangku Adat Dalam Penyelesaian Kasus La’a Sala Dalam Praktek Perkawinan Masyarakat Adat Di Desa Ratogesa, Kecamatan Golewa, Kabupaten Ngada]]></slims:digital_item>
</slims:digitals><slims:image><![CDATA[bag-keperdataan.png.png]]></slims:image>
<recordInfo>
<recordIdentifier><![CDATA[10804]]></recordIdentifier>
<recordCreationDate encoding="w3cdtf"><![CDATA[2023-01-16 07:31:26]]></recordCreationDate>
<recordChangeDate encoding="w3cdtf"><![CDATA[2023-01-20 12:28:48]]></recordChangeDate>
<recordOrigin><![CDATA[machine generated]]></recordOrigin>
</recordInfo></mods></modsCollection>