<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" ID="18615">
<titleInfo>
<title><![CDATA[NILAI SOSIAL BUDAYA RAGA RANDANG (STUDI SOSIOLOGIS PADA MASYARAKAT DESA WUE KECAMATAN WOLOMEZE KABUPATEN NGADA)]]></title>
</titleInfo>
<name type="Personal Name" authority="">
<namePart>YUNI KLOTILDA NARO</namePart>
<role><roleTerm type="text">Pengarang</roleTerm></role>
</name>
<name type="Personal Name" authority="">
<namePart>CHRISTINE ERIKA MEKA</namePart>
<role><roleTerm type="text">Dosen Pembimbing 2</roleTerm></role>
</name>
<name type="Personal Name" authority="">
<namePart>Blajan Konradus</namePart>
<role><roleTerm type="text">Dosen Pembimbing 1</roleTerm></role>
</name>
<name type="Personal Name">
<namePart>Blajan Konradus</namePart>
<role><roleTerm type="text">Ketua Penguji</roleTerm></role>
</name>
<name type="Personal Name">
<namePart>Hotlif Arkilaus Nope</namePart>
<role><roleTerm type="text">Penguji 2</roleTerm></role>
</name>
<name type="Personal Name">
<namePart>Christine Erika Meka</namePart>
<role><roleTerm type="text">Penguji 1</roleTerm></role>
</name>
<typeOfResource manuscript="yes" collection="yes"><![CDATA[mixed material]]></typeOfResource>
<genre authority="marcgt"><![CDATA[bibliography]]></genre>
<originInfo>
<place><placeTerm type="text"><![CDATA[Kupang]]></placeTerm></place>
<publisher><![CDATA[UPT Perpustakaan Undana]]></publisher>
<dateIssued><![CDATA[2023]]></dateIssued>
<issuance><![CDATA[monographic]]></issuance>
<edition><![CDATA[Published]]></edition>
</originInfo>
<language>
<languageTerm type="code"><![CDATA[id]]></languageTerm>
<languageTerm type="text"><![CDATA[Indonesia]]></languageTerm>
</language>
<itemType>
<itemTypeTerm type="code"><![CDATA[]]></itemTypeTerm>
<itemTypeTerm type="text"><![CDATA[Skripsi]]></itemTypeTerm>
</itemType>
<copyright>
<copyrightTerm type="code"><![CDATA[10]]></copyrightTerm>
<copyrightTerm type="text"><![CDATA[Individu Penulis]]></copyrightTerm>
</copyright>
<physicalDescription>
<form authority="gmd"><![CDATA[Skripsi]]></form>
<extent><![CDATA[xvi+72 hlm]]></extent>
</physicalDescription>
<note>Penelitian ini berjudul “Nilai Sosial Budaya Raga Randang (Studi Sosiologis Pada Masyarakat Desa Wue Kecamatan Wolomeze Kabupaten Ngada)”. Permasalahan dalam penelitian ini adalah apa saja nilai sosial budaya yang terkandung dalam upacara adat Raga Randang di Desa Wue, Kecamatan Wolomeze, Kabupaten Ngada ? Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menemukan atau mengungkapkan nilai sosial budaya yang terkandung dalam upacara adat Raga Randang di Desa Wue, Kecamatan Wolomeze, Kabupaten Ngada. Penelitian ini menggunakan teori tindakan dari Talcott Parsons. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara mendalam dengan responden terkait dan pengumpulan data melalui dokumentasi. Meskipun awalnya direncanakan untuk menggunakan teknik observasi, namun tidak ditemukan kegiatan upacara adat Raga Randang selama penelitian lapangan. Oleh karena itu, teknik observasi tidak dapat digunakan dalam penelitian ini. Informan dalam penelitian ini berjumlah 5 orang yang terdiri dari 1 Ketua Adat (Dor), 1 Tokoh Masyarakat, 1 Ketua LPA dan 2 Orang Tua Adat, yang punya peran penting dan mengetahui tentang upacara adat Raga Randang. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa tradisi Raga Randang masih dipertahankan oleh masyarakat Desa Wue yang merupakan warisan nenek moyang secara turun temurun dengan tujuan untuk penyambutan tamu kehormatan yang datang dan memberi kehidupan bagi masyarakat Desa Wue seperti pembangunan jalan dan infrastruktur lainnya. Pelaksanaan upacara adat Raga Randang terdiri dari tiga tahap. Tahap pertama adalah persiapan yang melibatkan musyawarah (Reze Nanggur) dan turun gong (Wau Gong). Tahap kedua adalah pelaksanaan yang dimulai dengan pengalungan benda-benda simbolis (Keu Kanggong) dan doa adat (Pintu Manuk). Tahap akhir melibatkan prosesi pengantaran (Podo) dan penggantungan gong (Teong Gong). Nilai yang terkandung dalam tradisi Raga Randang yaitu 1). Gotong royong, 2). Religius, 3). Musyawarah mufakat, 4). Keramahan, 5). Penghargaan, dan 6). Kontinuitas. Peneliti menyarankan agar ketua adat dan orang tua adat, memberi edukasi cultural terhadap generasi muda khususnya dalam tradisi upacara adat Raga Randang, sehingga makna dan nilainya pun tidak hilang sampai kapanpun dan juga kepada seluruh masyarakat Desa Wue agar bersama-sama menjaga dan memelihara tradisi upacara adat Raga Randang sebagai sarana penjemputan tamu kehormatan.  

Kata Kunci: Nilai Sosial, Budaya, Raga Randang</note>
<classification><![CDATA[692.01]]></classification><ministry><![CDATA[69201]]></ministry><studentID><![CDATA[1903030033]]></studentID><identifier type="isbn"><![CDATA[20231020]]></identifier><departementID><![CDATA[Sosiologi]]></departementID><urlCrossref><![CDATA[]]></urlCrossref><location>
<physicalLocation><![CDATA[Setiadi Repository UPT Perpustakaan Undana]]></physicalLocation>
<shelfLocator><![CDATA[692.01 Nar N]]></shelfLocator>
</location>
<slims:digitals>
</slims:digitals><slims:image><![CDATA[Cover_Skripsi_Sosiologi.png.png]]></slims:image>
<recordInfo>
<recordIdentifier><![CDATA[18615]]></recordIdentifier>
<recordCreationDate encoding="w3cdtf"><![CDATA[2023-11-10 15:18:25]]></recordCreationDate>
<recordChangeDate encoding="w3cdtf"><![CDATA[2023-11-15 10:49:39]]></recordChangeDate>
<recordOrigin><![CDATA[machine generated]]></recordOrigin>
</recordInfo></mods></modsCollection>