<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" ID="22138">
<titleInfo>
<title><![CDATA[ANALISIS KELAYAKAN USAHATANI PENANGKARAN BENIH JAGUNG HIBRIDA]]></title>
</titleInfo>
<name type="Personal Name" authority="">
<namePart>Gravansilus Hina Tanggumara</namePart>
<role><roleTerm type="text">Pengarang</roleTerm></role>
</name>
<name type="Personal Name" authority="">
<namePart>DOPPY ROY NENDISSA</namePart>
<role><roleTerm type="text">Dosen Pembimbing 1</roleTerm></role>
</name>
<name type="Personal Name" authority="">
<namePart>Ida Nurwiana</namePart>
<role><roleTerm type="text">Dosen Pembimbing 2</roleTerm></role>
</name>
<name type="Personal Name">
<namePart>Doppy Roy Nendissa</namePart>
<role><roleTerm type="text">Ketua Penguji</roleTerm></role>
</name>
<name type="Personal Name">
<namePart>Ida Nurwiana</namePart>
<role><roleTerm type="text">Penguji 1</roleTerm></role>
</name>
<name type="Personal Name">
<namePart>Maximilian M.J. Kapa</namePart>
<role><roleTerm type="text">Penguji 2</roleTerm></role>
</name>
<typeOfResource manuscript="yes" collection="yes"><![CDATA[mixed material]]></typeOfResource>
<genre authority="marcgt"><![CDATA[bibliography]]></genre>
<originInfo>
<place><placeTerm type="text"><![CDATA[Kupang]]></placeTerm></place>
<publisher><![CDATA[UPT Perpustakaan Undana]]></publisher>
<dateIssued><![CDATA[2024]]></dateIssued>
<issuance><![CDATA[monographic]]></issuance>
<edition><![CDATA[Published]]></edition>
</originInfo>
<language>
<languageTerm type="code"><![CDATA[id]]></languageTerm>
<languageTerm type="text"><![CDATA[Indonesia]]></languageTerm>
</language>
<itemType>
<itemTypeTerm type="code"><![CDATA[]]></itemTypeTerm>
<itemTypeTerm type="text"><![CDATA[Skripsi]]></itemTypeTerm>
</itemType>
<copyright>
<copyrightTerm type="code"><![CDATA[14]]></copyrightTerm>
<copyrightTerm type="text"><![CDATA[Individu Penulis]]></copyrightTerm>
</copyright>
<physicalDescription>
<form authority="gmd"><![CDATA[Skripsi]]></form>
<extent><![CDATA[xvi + 77 hlm]]></extent>
</physicalDescription>
<note>Produksi jagung di Kabupaten SBD, rata – rata 2,8 ton/ha masih jauh di bawah potensi hasil dari berbagai varietas jagung yang dapat mencapai 8 ton/ha hingga 11 ton/ha. Rendahnya produktivitas jagung di SBD salah satunya disebabkan oleh penggunaan benih. Umumnya petani mengunakan benih jagung dari hasil panen sebelumnya, sehingga produktivitas relatif rendah. Salah satu upaya pemerintah NTT dan SBD dalam mengatasi permasalahan benih unggul yaitu melalui program TJPS dengan penangkaran benih jagung hibrida. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis teknik budidaya usahatani penangkaran benih jagung hibrida, kelayakan ekonomi meliputi: penerimaan, keuntungan, R/C Ratio, dan BEP (Break Ivent Point) dan kelayakan sosial budaya yang meliputi: adat istiadat dan kebiasaan masyarakat. Metode penelitian yang digunakan adalah metode studi kasus. Pemilihan lokasi ditentukan secara sengaja (purposive), yaitu di Desa Ana Engge Kecamatan Kodi Kabupaten Sumba Barat Daya. Hasil penelitian menunjukan bahwa, a) teknik budidaya usahatani penangkaran benih jagung hibrida meliputi tanam, roughing dan seleksi, pemupukan, pengairan, penyiangan dan pembubunan, pencabutan bunga jantan atau detaseling, dan panen. b) kelayakan ekonomi usahatani penangkaran benih jagung hibrida dengan penerimaan sebesar Rp. 140.000.000/hektar, produksi 2.000 kg/hektar dengan harga jual Rp. 70.000/kg. Biaya produksi sebesar Rp. 24.249.722,- keuntungan sebesar Rp. 115.750.278/hektar. R/C ratio sebesar 5,77, artinya penerimaan usahatani mendapat 5 kali lebih untung dari total biaya yang dikeluarkan. BEP harga seharga Rp.12.178,-/kg, yang berarti usahatani mendapat 6 kali lebih untung setiap kali menjual dengan harga Rp. 70.000/kg. Sedangkan BEP produksi sebesar 346,425 kg, artinya usahatani mendapat 6 kali lebih untung setiap kali menghasilkan produksi 2.000 kg/hektar. c) Sosial budaya masyarakat Desa Ana Engge sebelum melakukan tanam ataupun panen mereka melakukan ritual dengan memotong ayam ataupun babi sebelum tanam atau panen, dengan demikian mereka percaya bahwa hasil dari tanaman yang mereka usahakan akan mendapatkan hasil produksi yang baik.
Kata kunci: Kelayakan usahatani, jagung hibrida, penangkaran benih</note>
<classification><![CDATA[542.01]]></classification><ministry><![CDATA[54201]]></ministry><studentID><![CDATA[1904020174]]></studentID><identifier type="isbn"><![CDATA[20231215]]></identifier><departementID><![CDATA[Agribisnis]]></departementID><urlCrossref><![CDATA[]]></urlCrossref><location>
<physicalLocation><![CDATA[Setiadi Repository UPT Perpustakaan Undana]]></physicalLocation>
<shelfLocator><![CDATA[542.01 TAN A]]></shelfLocator>
</location>
<slims:digitals>
</slims:digitals><slims:image><![CDATA[skripsi_agribisnis.png.png]]></slims:image>
<recordInfo>
<recordIdentifier><![CDATA[22138]]></recordIdentifier>
<recordCreationDate encoding="w3cdtf"><![CDATA[2024-02-02 17:43:51]]></recordCreationDate>
<recordChangeDate encoding="w3cdtf"><![CDATA[2024-02-07 15:07:08]]></recordChangeDate>
<recordOrigin><![CDATA[machine generated]]></recordOrigin>
</recordInfo></mods></modsCollection>