<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" ID="22524">
<titleInfo>
<title><![CDATA[Pemetaan Polusi Cahaya di sekitar Observatorium Nasional Timau dengan menggunakan Sky Quality Meter dan Citra Satelit VIIRS-DNB]]></title>
</titleInfo>
<name type="Personal Name" authority="">
<namePart>Desta Marina Aoetpah</namePart>
<role><roleTerm type="text">Pengarang</roleTerm></role>
</name>
<name type="Personal Name" authority="">
<namePart>Jehunias L. Tanesib</namePart>
<role><roleTerm type="text">Dosen Pembimbing 1</roleTerm></role>
</name>
<name type="Personal Name" authority="">
<namePart>Intan Perwitasari</namePart>
<role><roleTerm type="text">Dosen Pembimbing 2</roleTerm></role>
</name>
<name type="Personal Name">
<namePart>Ali Warsito</namePart>
<role><roleTerm type="text">Penguji 2</roleTerm></role>
</name>
<name type="Personal Name">
<namePart>Jehunias L. Tanesib</namePart>
<role><roleTerm type="text">Ketua Penguji</roleTerm></role>
</name>
<name type="Personal Name">
<namePart>Intan Perwitasari</namePart>
<role><roleTerm type="text">Penguji 1</roleTerm></role>
</name>
<typeOfResource manuscript="yes" collection="yes"><![CDATA[mixed material]]></typeOfResource>
<genre authority="marcgt"><![CDATA[bibliography]]></genre>
<originInfo>
<place><placeTerm type="text"><![CDATA[Kupang]]></placeTerm></place>
<publisher><![CDATA[UPT Perpustakaan Undana]]></publisher>
<dateIssued><![CDATA[2024]]></dateIssued>
<issuance><![CDATA[monographic]]></issuance>
<edition><![CDATA[Published]]></edition>
</originInfo>
<language>
<languageTerm type="code"><![CDATA[id]]></languageTerm>
<languageTerm type="text"><![CDATA[Indonesia]]></languageTerm>
</language>
<itemType>
<itemTypeTerm type="code"><![CDATA[]]></itemTypeTerm>
<itemTypeTerm type="text"><![CDATA[Skripsi]]></itemTypeTerm>
</itemType>
<copyright>
<copyrightTerm type="code"><![CDATA[14]]></copyrightTerm>
<copyrightTerm type="text"><![CDATA[Individu Penulis]]></copyrightTerm>
</copyright>
<physicalDescription>
<form authority="gmd"><![CDATA[Skripsi]]></form>
<extent><![CDATA[XVI + 88 hlm]]></extent>
</physicalDescription>
<note>Polusi cahaya merupakan perubahan cahaya alami di malam hari yang diakibatkan oleh adanya peningkatan cahaya buatan yang tersebar di atmosfer dan pancaran cahaya langsung. Peningkatan cahaya buatan didasari oleh pengembangan ekonomi, pertumbuhan penduduk dan urbanisasi. Salah satu efek negatifnya adalah menghalangi para astronom dalam pengamatan benda-benda langit. Sebagai daerah riset pengembangan pengamatan benda langit terbesar di Indonesia dan Asia Tenggara, lokasi keberadaan Observatorium Nasional Timau merupakan tempat paling strategis yang dipilih. Akan tetapi dengan pertumbuhan jumlah penduduk dan pengembangan akses jalan, lokasi tersebut harus dipantau secara berkala dengan pengukuran dan pemetaan kecerahan langit malam untuk melihat seberapa murni langit malam. Penelitian ini dilakukan dalam radius 15-25 km dan tambahan kota-kota dalam jangkauan mata menggunakan  penelitian survei dengan pendekatan metode observasi dan kualitatifmelalui pengukuran insitu dan citra satelit. Metode observasi bertujuan mendapatkan informasi yang diperoleh dari hasil pengamatan secara langsung, sedangkan metode kualitatif bertujuan untuk memberikan hasil. Hasil pengukuran insitu dengan SQM menunjukkan kecerahan langit malam terendah hingga semakin tinggi dimulai dari Kota Soe, Naibonat, Takari dan dalam radius 25 km di sekitar Observatorium Nasional Timau, dan melalui citra satelit VIIRS-DNB menunjukkan kondisi langit malam masih dalam ideal di Observatorium Nasional Timau namun Kota Soe, Naibonat, dan Takari mulai terpapar cahaya buatan. Selanjutnya hasil kedua pengukuran ini dilakukan pemetaan. Berdasarkan hasil pemetaan, sebaran polusi cahaya ditunjukkan berada di kawasan selatan-tenggara dari Observatorium Nasional Timau baik di dalam maupun di luar radius 25 km. Oleh karena itu dengan teridentifikasinya polusi cahaya tersebut menjadi peringatan bagi pengamatan benda langit di kemudian hari.</note>
<classification><![CDATA[45.201]]></classification><ministry><![CDATA[45201]]></ministry><studentID><![CDATA[1806060047]]></studentID><identifier type="isbn"><![CDATA[20231110]]></identifier><departementID><![CDATA[Fisika]]></departementID><urlCrossref><![CDATA[]]></urlCrossref><location>
<physicalLocation><![CDATA[Setiadi Repository UPT Perpustakaan Undana]]></physicalLocation>
<shelfLocator><![CDATA[45.201 Aoe P]]></shelfLocator>
</location>
<slims:digitals>
</slims:digitals><slims:image><![CDATA[Cover_skripsi.png.png]]></slims:image>
<recordInfo>
<recordIdentifier><![CDATA[22524]]></recordIdentifier>
<recordCreationDate encoding="w3cdtf"><![CDATA[2024-02-06 13:51:25]]></recordCreationDate>
<recordChangeDate encoding="w3cdtf"><![CDATA[2024-02-11 20:06:19]]></recordChangeDate>
<recordOrigin><![CDATA[machine generated]]></recordOrigin>
</recordInfo></mods></modsCollection>