<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" ID="26378">
<titleInfo>
<title><![CDATA[Analisis Integrasi Harga Cabai Rawit Antara Pasar Tradisional Di Provinsi NTB Dan NTT (Studi Kasus Kota Mataram dan Kota Kupang)]]></title>
</titleInfo>
<name type="Personal Name" authority="">
<namePart>VIKTORIANA SRI SULASTRI</namePart>
<role><roleTerm type="text">Pengarang</roleTerm></role>
</name>
<name type="Personal Name" authority="">
<namePart>Marthen R. Pellokila</namePart>
<role><roleTerm type="text">Dosen Pembimbing 2</roleTerm></role>
</name>
<name type="Personal Name" authority="">
<namePart>D. Roy Nendissa</namePart>
<role><roleTerm type="text">Dosen Pembimbing 1</roleTerm></role>
</name>
<name type="Personal Name">
<namePart>Doppy Roy Nendissa</namePart>
<role><roleTerm type="text">Ketua Penguji</roleTerm></role>
</name>
<name type="Personal Name">
<namePart>Marthen R Pellokila</namePart>
<role><roleTerm type="text">Penguji 1</roleTerm></role>
</name>
<name type="Personal Name">
<namePart>Maximilian M.J. Kapa</namePart>
<role><roleTerm type="text">Penguji 2</roleTerm></role>
</name>
<typeOfResource manuscript="yes" collection="yes"><![CDATA[mixed material]]></typeOfResource>
<genre authority="marcgt"><![CDATA[bibliography]]></genre>
<originInfo>
<place><placeTerm type="text"><![CDATA[Kupang]]></placeTerm></place>
<publisher><![CDATA[UPT Perpustakaan Undana]]></publisher>
<dateIssued><![CDATA[2024]]></dateIssued>
<issuance><![CDATA[monographic]]></issuance>
<edition><![CDATA[Published]]></edition>
</originInfo>
<language>
<languageTerm type="code"><![CDATA[id]]></languageTerm>
<languageTerm type="text"><![CDATA[Indonesia]]></languageTerm>
</language>
<itemType>
<itemTypeTerm type="code"><![CDATA[]]></itemTypeTerm>
<itemTypeTerm type="text"><![CDATA[Skripsi]]></itemTypeTerm>
</itemType>
<copyright>
<copyrightTerm type="code"><![CDATA[24]]></copyrightTerm>
<copyrightTerm type="text"><![CDATA[Individu Penulis]]></copyrightTerm>
</copyright>
<physicalDescription>
<form authority="gmd"><![CDATA[Skripsi]]></form>
<extent><![CDATA[xvii + 88 hlm]]></extent>
</physicalDescription>
<note>Indonesia memiliki keanekaragaman sumber daya alam yang melimpah termasuk dalam sektor pertanian dan hortikultura. Salah satu komoditas hortikultura yang sangat penting di Indonesia adalah cabai rawit (Capsicum Frutescens). Cabai rawit memiliki nilai ekonomi yang tinggi dan dibutuhkan setiap hari oleh Masyarakat.
Pembudidayaan cabai rawit memiliki prospek yang cerah karena dapat mendukung Upaya peningkatan pendapatan petani, pengentasan kemiskinan, dan memperluas kesempatan kerja. Namun, mekanisme pasar cabai rawit mengendalikan Upaya pemasaran hasil pertanian ini. Cabai rawit merupakan salah satu komoditas penting di Indonesia dengan permintaan yang terus meningkat seiring dengan pertumbuhan jumlah penduduk dan peningkatan daya beli masyarakat. Untuk memenuhi kebutuhan yang terus meningkat tersebut, diperlukan upaya peningkatan produksi cabai rawit. Memasok cabai rawit dari Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) ke Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dapat membantu memenuhi kebutuhan masyarakat NTT, terutama ketika produksi cabai rawit di NTT mengalami penurunan. Provinsi NTB dikenal sebagai sentra produksi cabai rawit di Indonesia, sehingga memiliki potensi untuk menyuplai kebutuhan cabai rawit ke daerah lain. Namun, perlu diperhatikan faktor-faktor logistik dan distribusi, serta pengaturan
 
harga dan kerjasama antar petani dan pihak terkait untuk menciptakan solusi bagi semua pihak yang terlibat dalam rantai pasok cabai rawit ini.
Metode dasar penelitian adalah deskriptif kuantitatif. Lokasi Penelitian dilakukan di dua Provinsi yakni Provinsi NTB dan Provinsi NTT dengan mempertimbangkan lokasi penelitian yang dilakukan secara sengaja (Purposive Method). Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder berupa data bulanan harga cabai rawit periode januari 2018-desember 2022 (time series). Analisis Data yang digunakan adalah (1) Vector Error Correction Model (VECM) untuk mengetahui adanya hubungan jangka Panjang dan jangka pendek antara kedua wilayah ini serta
(2) Koefisien Variasi untuk mengetahui pola pergerakan harga cabai merah yang bersifat fluktuatif.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil Uji VECM Terdapat hubungan keseimbangan jangka panjang antara Kota Mataram dan Kota Kupang. Selain itu, juga terdapat pengaruh hubungan jangka panjang dan jangka pendek dengan hubungan yang bersifat satu arah, yakni perubahan harga yang terjadi di Kota Mataram akan mempengaruhi harga cabai rawit di Kota Kupang dan tidak berlaku sebaliknya Perubahan harga yang terjadi di Kota Kupang tidak mempengaruhi perubahan harga di Kota Mataram. Trend yang dihasilkan oleh Kota Mataram dan Kota Kupang menunjukan pola yang hampir sama yakni sama-sama sangat berfluktuatif dan tidak stabil.

Kata Kunci: Cabai Rawit, integrasi, Harga, Pasar, Fluktuasi, NTB, NTT, Kota Mataram, Kota Kupang.</note>
<classification><![CDATA[542.01]]></classification><ministry><![CDATA[54201]]></ministry><studentID><![CDATA[2004020008]]></studentID><identifier type="isbn"><![CDATA[20240624]]></identifier><departementID><![CDATA[Fakultas Pertanian]]></departementID><urlCrossref><![CDATA[]]></urlCrossref><location>
<physicalLocation><![CDATA[Setiadi Repository UPT Perpustakaan Undana]]></physicalLocation>
<shelfLocator><![CDATA[542.01 SUL A]]></shelfLocator>
</location>
<slims:digitals>
</slims:digitals><slims:image><![CDATA[skripsi-agribisnis1.png.png]]></slims:image>
<recordInfo>
<recordIdentifier><![CDATA[26378]]></recordIdentifier>
<recordCreationDate encoding="w3cdtf"><![CDATA[2024-07-31 17:37:24]]></recordCreationDate>
<recordChangeDate encoding="w3cdtf"><![CDATA[2024-08-05 15:37:15]]></recordChangeDate>
<recordOrigin><![CDATA[machine generated]]></recordOrigin>
</recordInfo></mods></modsCollection>