<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" ID="28267">
<titleInfo>
<title><![CDATA[ANALISIS STRATEGI KOMUNIKASI JURU BICARA  (ATA PANEWE) DALAM PROSES PERKAWINAN  ADAT  MASYARAKAT SUMBA BARAT DAYA]]></title>
</titleInfo>
<name type="Personal Name" authority="">
<namePart>Samantha Elo</namePart>
<role><roleTerm type="text">Pengarang</roleTerm></role>
</name>
<name type="Personal Name" authority="">
<namePart>Veki Edizon Tuhana</namePart>
<role><roleTerm type="text">Dosen Pembimbing 1</roleTerm></role>
</name>
<name type="Personal Name" authority="">
<namePart>Herman Elfridus Seran</namePart>
<role><roleTerm type="text">Dosen Pembimbing 2</roleTerm></role>
</name>
<name type="Personal Name">
<namePart>Veki Edizon Tuhana</namePart>
<role><roleTerm type="text">Ketua Penguji</roleTerm></role>
</name>
<name type="Personal Name">
<namePart>MARIA YULITA NARA</namePart>
<role><roleTerm type="text">Penguji 2</roleTerm></role>
</name>
<name type="Personal Name">
<namePart>Herman Elfridus Seran</namePart>
<role><roleTerm type="text">Penguji 1</roleTerm></role>
</name>
<typeOfResource manuscript="yes" collection="yes"><![CDATA[mixed material]]></typeOfResource>
<genre authority="marcgt"><![CDATA[bibliography]]></genre>
<originInfo>
<place><placeTerm type="text"><![CDATA[Kupang]]></placeTerm></place>
<publisher><![CDATA[UPT Perpustakaan Undana]]></publisher>
<dateIssued><![CDATA[2024]]></dateIssued>
<issuance><![CDATA[monographic]]></issuance>
<edition><![CDATA[Published]]></edition>
</originInfo>
<language>
<languageTerm type="code"><![CDATA[id]]></languageTerm>
<languageTerm type="text"><![CDATA[Indonesia]]></languageTerm>
</language>
<itemType>
<itemTypeTerm type="code"><![CDATA[]]></itemTypeTerm>
<itemTypeTerm type="text"><![CDATA[Skripsi]]></itemTypeTerm>
</itemType>
<copyright>
<copyrightTerm type="code"><![CDATA[24]]></copyrightTerm>
<copyrightTerm type="text"><![CDATA[Individu Penulis]]></copyrightTerm>
</copyright>
<physicalDescription>
<form authority="gmd"><![CDATA[Skripsi]]></form>
<extent><![CDATA[xiv+116]]></extent>
</physicalDescription>
<note>Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi komunikasi yang diterapkan oleh juru bicara (ata panewe) dalam proses perkawinan adat masyarakat Sumba Barat Daya serta mengidentifikasi bentuk-bentuk tindak tutur yang digunakan dalam konteks tersebut. Menggunakan paradigma interpretif, dengan pendekatan deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui dokumentasi, wawancara, dan observasi. Paradigma interpretif melihat realitas 
sosial sebagai sesuatu yang holistik dan dinamis, sehingga cocok untuk memahami komunikasi dalam konteks adat yang kompleks. Hasil penelitian 
mengungkapkan bahwa strategi komunikasi juru bicara dalam proses perkawinan adat terdiri dari empat komponen utama: (1) Perencanaan, yang merupakan tahap awal di mana keluarga calon pengantin memilih juru bicara untuk mewakili mereka dalam pembicaraan adat. (2) Pendekatan Personal, di 
mana juru bicara melakukan pendekatan personal antar pihak keluarga untuk membangun hubungan yang baik dan mempermudah komunikasi. (3) 
Pelaksanaan, yaitu tahap implementasi strategi yang melibatkan kemampuan juru bicara dalam mengolah kalimat dan menyampaikan pesan dengan efektif 
selama proses pembicaraan adat. (4) Evaluasi, yang dilakukan untuk menilai apakah strategi yang diterapkan berhasil dan untuk memperbaiki kekurangan 
guna pembelajaran di masa depan. Selain itu, penelitian ini juga menjelaskan tiga bentuk tindak tutur yang khas dalam proses perkawinan adat masyarakat 
Sumba Barat Daya. Tahapan pertama adalah Tunda Binna atau ketuk pintu, di mana pihak keluarga laki-laki membuka komunikasi dengan keluarga 
perempuan. Tahapan kedua adalah Kette Katonga, yaitu proses peminangan yang dilakukan di kediaman keluarga perempuan dengan membawa belis. 
Tahapan ketiga adalah Dikki, di mana keluarga laki-laki membawa hewan belis ke rumah keluarga perempuan, disambut dengan ritual adat dan jamuan. 
Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa strategi komunikasi juru bicara dalam proses perkawinan adat bersifat persuasif dan mengandalkan 
retorika serta penyampaian pesan yang meyakinkan. Keterampilan berkomunikasi yang baik, termasuk teknik tutur bicara yang saling menghargai 
dan pemahaman mendalam mengenai adat, merupakan kunci utama dalam keberhasilan proses komunikasi.  
Kata Kunci : Strategi Komunikasi, Juru Bicara, Perkawinan Adat Sumba Barat Daya, Tindak Tutur</note>
<classification><![CDATA[702.01]]></classification><ministry><![CDATA[70201]]></ministry><studentID><![CDATA[2003050223]]></studentID><identifier type="isbn"><![CDATA[20240919]]></identifier><departementID><![CDATA[Ilmu Komunikasi]]></departementID><urlCrossref><![CDATA[]]></urlCrossref><location>
<physicalLocation><![CDATA[Setiadi Repository UPT Perpustakaan Undana]]></physicalLocation>
<shelfLocator><![CDATA[702.01 Elo A]]></shelfLocator>
</location>
<slims:digitals>
</slims:digitals><slims:image><![CDATA[Cover_skripsi_Ilmu_Komunikasi.png.png]]></slims:image>
<recordInfo>
<recordIdentifier><![CDATA[28267]]></recordIdentifier>
<recordCreationDate encoding="w3cdtf"><![CDATA[2024-10-08 12:15:07]]></recordCreationDate>
<recordChangeDate encoding="w3cdtf"><![CDATA[2024-10-11 12:01:37]]></recordChangeDate>
<recordOrigin><![CDATA[machine generated]]></recordOrigin>
</recordInfo></mods></modsCollection>