<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" ID="33093">
<titleInfo>
<title><![CDATA[KEBIJAKAN HUKUM PIDANA DALAM PERLINDUNGAN KORBAN  PELECEHAN SEKSUAL VIA VIRTUAL REALITY]]></title>
</titleInfo>
<name type="Personal Name" authority="">
<namePart>TERESIA AVILLA RAMIS</namePart>
<role><roleTerm type="text">Pengarang</roleTerm></role>
</name>
<name type="Personal Name" authority="">
<namePart>ROSALIND ANGEL FANGGI</namePart>
<role><roleTerm type="text">Dosen Pembimbing 2</roleTerm></role>
</name>
<name type="Personal Name" authority="">
<namePart>Dr. Orpa G. Manuain, S.H., M.H.</namePart>
<role><roleTerm type="text">Dosen Pembimbing 1</roleTerm></role>
</name>
<name type="Personal Name">
<namePart>Karolus Kopong Medan</namePart>
<role><roleTerm type="text">Ketua Penguji</roleTerm></role>
</name>
<name type="Personal Name">
<namePart>Rosalind Angel Fanggi</namePart>
<role><roleTerm type="text">Penguji 2</roleTerm></role>
</name>
<name type="Personal Name">
<namePart>Orpa G. Manuain</namePart>
<role><roleTerm type="text">Penguji 1</roleTerm></role>
</name>
<typeOfResource manuscript="yes" collection="yes"><![CDATA[mixed material]]></typeOfResource>
<genre authority="marcgt"><![CDATA[bibliography]]></genre>
<originInfo>
<place><placeTerm type="text"><![CDATA[Kupang]]></placeTerm></place>
<publisher><![CDATA[UPT Perpustakaan Undana]]></publisher>
<dateIssued><![CDATA[2025]]></dateIssued>
<issuance><![CDATA[monographic]]></issuance>
<edition><![CDATA[Published]]></edition>
</originInfo>
<language>
<languageTerm type="code"><![CDATA[id]]></languageTerm>
<languageTerm type="text"><![CDATA[Indonesia]]></languageTerm>
</language>
<itemType>
<itemTypeTerm type="code"><![CDATA[]]></itemTypeTerm>
<itemTypeTerm type="text"><![CDATA[Skripsi]]></itemTypeTerm>
</itemType>
<copyright>
<copyrightTerm type="code"><![CDATA[31]]></copyrightTerm>
<copyrightTerm type="text"><![CDATA[Individu Penulis]]></copyrightTerm>
</copyright>
<physicalDescription>
<form authority="gmd"><![CDATA[Skripsi]]></form>
<extent><![CDATA[XV + 46 hal]]></extent>
</physicalDescription>
<note>Kemajuan teknologi telah menciptakan realitas maya (virtual reality) yang 
memungkinkan interaksi digital, namun juga membuka peluang untuk pelecehan 
seksual. Hukum positif di Indonesia belum memiliki aturan spesifik untuk mengatur 
kasus pelecehan seksual dalam konteks virtual reality. Dengan rumusan masalah 
apakah kebijakan hukum pidana mampu memberikan perlindungan terhadap korban 
potensial pelecehan seksual via virtual reality. Penelitian ini bertujuan untuk 
menganalisis kebijakan hukum pidana dalam perlindungan korban potensial 
pelecehan seksual via virtual reality.
Penelitian ini merupakan penelitian hukum normatif dengan pendekatan 
perundang-undangan, konseptual, dan pendekatan kasus. Sumber bahan hukum yang 
digunakan terdiri dari bahan hukum primer, sekunder, dan tersier. Teknik 
pengumpulan bahan hukum dilakukan melalui studi kepustakaan. Analisis kebijakan 
hukum dalam tindak pidana pelecehan seksual via Virtual Reality dilakukan dengan 
menggunakan teknik analisis deskriptif, yang melibatkan analisis terhadap Undang-
Undang Nomor 12 Tahun 2022 tentang Tindak Pidana Kekerasan Seksual (UU 
TPKS).
Berdasarkan Berdasarkan analisis yang telah dilakukan, dapat disimpulkan 
bahwa kebijakan hukum pidana di Indonesia, utamanya melalui Pasal 14 Undang-
Undang Nomor 12 Tahun 2022 tentang Tindak Pidana Kekerasan Seksual (UU TPKS) 
mengenai kekerasan seksual berbasis elektronik, secara jelas mampu memberikan 
perlindungan hukum bagi korban pelecehan seksual di dunia Virtual Reality (VR). 
Keberadaan pasal ini, yang diperkuat oleh rincian perbuatan dalam ayat (1) serta 
definisinya sebagai perbuatan seksual nonfisik yang dilakukan melalui sistem 
elektronik, membuktikan bahwa hukum sudah tertulis (lex scripta) dan tidak ada 
kekosongan hukum total. Namun demikian, meskipun landasan hukum sudah ada, 
keunikan dan keistimewaan VR tetap menimbulkan tantangan dalam implementasi 
dan kekaburan norma pada level praktis. Hal ini menuntut interpretasi yang cermat 
dari aparat penegak hukum, namun tetap dalam koridor lex certa (kejelasan hukum) 
dan lex stricta (penafsiran ketat) agar tidak terjadi perluasan makna yang sewenang-
wenang atau analogi yang tidak tepat.
Kata kunci: kebijakan hukum pidana, pelecehan seksual, virtual reality.</note>
<classification><![CDATA[742.01]]></classification><ministry><![CDATA[74101]]></ministry><studentID><![CDATA[2102010279]]></studentID><identifier type="isbn"><![CDATA[20250603]]></identifier><departementID><![CDATA[Hukum]]></departementID><urlCrossref><![CDATA[]]></urlCrossref><location>
<physicalLocation><![CDATA[Setiadi Repository UPT Perpustakaan Undana]]></physicalLocation>
<shelfLocator><![CDATA[742.01 Ram K]]></shelfLocator>
</location>
<slims:digitals>
</slims:digitals><slims:image><![CDATA[Skripsi_Bag_Huk_Pidana.png.png]]></slims:image>
<recordInfo>
<recordIdentifier><![CDATA[33093]]></recordIdentifier>
<recordCreationDate encoding="w3cdtf"><![CDATA[2025-07-01 18:53:02]]></recordCreationDate>
<recordChangeDate encoding="w3cdtf"><![CDATA[2025-07-02 10:26:52]]></recordChangeDate>
<recordOrigin><![CDATA[machine generated]]></recordOrigin>
</recordInfo></mods></modsCollection>