<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" ID="33665">
<titleInfo>
<title><![CDATA[PERTANGGUNGJAWABAN PEMILIK HEWAN PELIHARAAN  BAGI KORBAN GIGITAN ANJING RABIES DI TINJAU DARI  KUHPERDATA DI KABUPATEN BELU]]></title>
</titleInfo>
<name type="Personal Name" authority="">
<namePart>FEBRINI WILHELMINA ASA</namePart>
<role><roleTerm type="text">Pengarang</roleTerm></role>
</name>
<name type="Personal Name" authority="">
<namePart>DARIUS MAURITSIUS</namePart>
<role><roleTerm type="text">Dosen Pembimbing 1</roleTerm></role>
</name>
<name type="Personal Name" authority="">
<namePart>HELSINA FRANSISKA PELLO</namePart>
<role><roleTerm type="text">Dosen Pembimbing 2</roleTerm></role>
</name>
<name type="Personal Name">
<namePart>Darius Mauritsius</namePart>
<role><roleTerm type="text">Penguji 1</roleTerm></role>
</name>
<name type="Personal Name">
<namePart>Helsina Fransiska Pello</namePart>
<role><roleTerm type="text">Penguji 2</roleTerm></role>
</name>
<name type="Personal Name">
<namePart>Orpa J NUbatonis</namePart>
<role><roleTerm type="text">Ketua Penguji</roleTerm></role>
</name>
<typeOfResource manuscript="yes" collection="yes"><![CDATA[mixed material]]></typeOfResource>
<genre authority="marcgt"><![CDATA[bibliography]]></genre>
<originInfo>
<place><placeTerm type="text"><![CDATA[Kupang]]></placeTerm></place>
<publisher><![CDATA[UPT Perpustakaan Undana]]></publisher>
<dateIssued><![CDATA[2025]]></dateIssued>
<issuance><![CDATA[monographic]]></issuance>
<edition><![CDATA[Published]]></edition>
</originInfo>
<language>
<languageTerm type="code"><![CDATA[id]]></languageTerm>
<languageTerm type="text"><![CDATA[Indonesia]]></languageTerm>
</language>
<itemType>
<itemTypeTerm type="code"><![CDATA[]]></itemTypeTerm>
<itemTypeTerm type="text"><![CDATA[Skripsi]]></itemTypeTerm>
</itemType>
<copyright>
<copyrightTerm type="code"><![CDATA[31]]></copyrightTerm>
<copyrightTerm type="text"><![CDATA[Individu Penulis]]></copyrightTerm>
</copyright>
<physicalDescription>
<form authority="gmd"><![CDATA[Skripsi]]></form>
<extent><![CDATA[xv + 46 hal]]></extent>
</physicalDescription>
<note>Pemilik hewan peliharaan, khususnya anjing, memiliki tanggung jawab 
hukum atas segala akibat yang ditimbulkan oleh hewan tersebut terhadap pihak 
ketiga. Ketika anjing peliharaan menggigit seseorang dan menyebabkan luka, 
penderitaan fisik, bahkan risiko tertular rabies, maka pemilik dapat dimintai 
pertanggungjawaban sebagaimana diatur dalam Pasal 1368 KUHPerdata. Namun 
dalam praktiknya, masih banyak pemilik hewan yang lalai atau menghindari 
tanggung jawab hukum ini. Kabupaten Belu merupakan salah satu daerah endemis 
rabies di Nusa Tenggara Timur dengan peningkatan kasus gigitan anjing rabies dari 
tahun ke tahun. Berdasarkan data dari instansi terkait, sejak Januari 2023 hingga 
Maret 2024 tercatat 18 kasus gigitan anjing rabies yang tersebar di beberapa 
kecamatan, dengan Kota Atambua sebagai wilayah dengan kasus tertinggi.
Penelitian ini bertujuan untuk menjawab dua rumusan masalah, yaitu: (1) 
Bagaimana pertanggungjawaban pemilik hewan peliharaan bagi korban gigitan anjing 
rabies menurut KUHPerdata di Kabupaten Belu? dan (2) Apa saja hambatan dalam 
pelaksanaan pertanggungjawaban tersebut?
Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan pertanggungjawaban pemilik 
hewan masih belum berjalan optimal. Dari 18 korban gigitan anjing rabies, hanya 6 
korban yang mendapatkan bentuk tanggung jawab dari pemilik hewan, berupa 
bantuan biaya pengobatan atau pengantaran ke fasilitas kesehatan. Sementara 12 
korban lainnya tidak mendapatkan tanggung jawab apapun. Bentuk 
pertanggungjawaban yang ditemukan meliputi pemberian biaya pengobatan (33,3%), 
penyelesaian secara kekeluargaan (16,67%), dan tidak adanya tanggung jawab sama 
sekali (50%). Hambatan utama dalam pelaksanaan pertanggungjawaban mencakup 
rendahnya pemahaman hukum pemilik hewan, ketidaktahuan korban terhadap 
mekanisme hukum, serta kurangnya pengawasan dan sanksi dari pemerintah daerah. 
Selain itu, sebagian besar pemilik anjing (66,7%) tidak memahami bahwa mereka 
memiliki kewajiban hukum untuk bertanggung jawab atas kerugian yang ditimbulkan 
hewan peliharaan mereka.
Penelitian ini merekomendasikan perlunya peningkatan edukasi hukum 
kepada masyarakat, penyusunan regulasi daerah yang lebih tegas terkait kepemilikan 
hewan peliharaan, serta peran aktif instansi terkait dalam mengawasi dan menangani 
kasus gigitan anjing rabies agar korban mendapatkan keadilan yang layak.
Kata Kunci: Pertanggungjawaban, Pemilik Hewan Peliharaan, Gigitan Anjing 
Rabies, KUH Perdata.</note>
<classification><![CDATA[742.01]]></classification><ministry><![CDATA[74101]]></ministry><studentID><![CDATA[2102010150]]></studentID><identifier type="isbn"><![CDATA[20250623]]></identifier><departementID><![CDATA[Ilmu Hukum]]></departementID><urlCrossref><![CDATA[]]></urlCrossref><location>
<physicalLocation><![CDATA[Setiadi Repository UPT Perpustakaan Undana]]></physicalLocation>
<shelfLocator><![CDATA[742.01 Asa P]]></shelfLocator>
</location>
<slims:digitals>
</slims:digitals><slims:image><![CDATA[Bag_Huk_Perdata-4.png.png]]></slims:image>
<recordInfo>
<recordIdentifier><![CDATA[33665]]></recordIdentifier>
<recordCreationDate encoding="w3cdtf"><![CDATA[2025-07-15 10:29:08]]></recordCreationDate>
<recordChangeDate encoding="w3cdtf"><![CDATA[2025-07-16 10:18:04]]></recordChangeDate>
<recordOrigin><![CDATA[machine generated]]></recordOrigin>
</recordInfo></mods></modsCollection>