<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" ID="33679">
<titleInfo>
<title><![CDATA[KETENTUAN HUKUM ADAT TEKAIT SENGKETA TANAH WIDA  ANTARA MASYARAKAT KAMPUNG LAWIR DAN MASYARAKAT  KAMPUNG KAKOR KECAMATAN LANGKE REMBONG KABUPATEN  MANGGARAI NUSA TENGGARA TIMUR]]></title>
</titleInfo>
<name type="Personal Name" authority="">
<namePart>MARIA SURYATI DORMAN THOE</namePart>
<role><roleTerm type="text">Pengarang</roleTerm></role>
</name>
<name type="Personal Name" authority="">
<namePart>DARIUS MAURITSIUS</namePart>
<role><roleTerm type="text">Dosen Pembimbing 1</roleTerm></role>
</name>
<name type="Personal Name" authority="">
<namePart>Chatryen M Dju Bire</namePart>
<role><roleTerm type="text">Dosen Pembimbing 2</roleTerm></role>
</name>
<name type="Personal Name">
<namePart>Darius Mauritsius</namePart>
<role><roleTerm type="text">Penguji 1</roleTerm></role>
</name>
<name type="Personal Name">
<namePart>Helsina Fransiska Pello</namePart>
<role><roleTerm type="text">Ketua Penguji</roleTerm></role>
</name>
<name type="Personal Name">
<namePart>Chatryen M Dju Bire</namePart>
<role><roleTerm type="text">Penguji 2</roleTerm></role>
</name>
<typeOfResource manuscript="yes" collection="yes"><![CDATA[mixed material]]></typeOfResource>
<genre authority="marcgt"><![CDATA[bibliography]]></genre>
<originInfo>
<place><placeTerm type="text"><![CDATA[Kupang]]></placeTerm></place>
<publisher><![CDATA[UPT Perpustakaan Undana]]></publisher>
<dateIssued><![CDATA[2025]]></dateIssued>
<issuance><![CDATA[monographic]]></issuance>
<edition><![CDATA[Published]]></edition>
</originInfo>
<language>
<languageTerm type="code"><![CDATA[id]]></languageTerm>
<languageTerm type="text"><![CDATA[Indonesia]]></languageTerm>
</language>
<itemType>
<itemTypeTerm type="code"><![CDATA[]]></itemTypeTerm>
<itemTypeTerm type="text"><![CDATA[Skripsi]]></itemTypeTerm>
</itemType>
<copyright>
<copyrightTerm type="code"><![CDATA[31]]></copyrightTerm>
<copyrightTerm type="text"><![CDATA[Individu Penulis]]></copyrightTerm>
</copyright>
<physicalDescription>
<form authority="gmd"><![CDATA[Skripsi]]></form>
<extent><![CDATA[viii + 44 hal]]></extent>
</physicalDescription>
<note>Latar belakang masalah dalam penelitian ini adalah tentang sengketa tanah wida 
antara masyarakat kampung Lawir sebagai anak rona (saudara laki-laki) memberikan 
tanah kepada masyarakat kampung Kakor sebagai anak wina (saudara perempuan) 
ketika saudara perempuan ini menikah. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu tanah 
wida tersebut berpotensi besar menimbulkan konflik. Ada banyak hal yang menjadi 
faktor penyebab seperti, tanah tidak memiliki sertifikat sehingga dikemudian hari anak 
rona bisa saja mempertentangkan tanah wida tersebut. Penelitian dilanjutkan untuk 
meneliti lebih lanjut tentang Bagaimana ketentuan Hukum Adat dalam menyelesaikan 
sengketa tanah wida tersebut. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah (1) Apa 
saja faktor penyebab terjadinya sengketa tanah wida antara masyarakat kampung 
Lawir dan masyarakat kampung Kakor? (2) Bagaimana ketentuan hukum adat terkait 
sengketa tanah wida antara masyarakat kampung Lawir dan masyarakat kampung 
Kakor?
Penelitian ini merupakan penelitian hukum empiris yang menggunakan metode 
pendekatan berupa wawancara sebagai sumber data primer dan menggunakan studi 
kepustakaan seperti buku-buku, peraturan perundang undangan, ataupun tulisan ilmiah 
lainnya yang berkaitan dengan penelitian ini. Data dianalisis secara deskriptif-
kualitatif.
Hasil penelitian ini menunjukan, (1) sengketa tanah wida yang terjadi antar dua 
kampung ini dipicu oleh beberapa faktor yaitu adanya keinginan jual beli dari 
masyarakat kampung Kakor dan tidak adanya bukti kepemilikan berupa sertifikat dan 
surat wasiat yang membuat masyarkat kampung Lawir ingin mengambil kembali tanah 
tersebut. Selain itu, masyarakat kampung Lawir juga memiliki rencana untuk 
membangun sekolah dan puskesmas dengan alasan untuk dengan mudah mendapatkan 
akses kesehatan dan pendidikan yang memadai. (2) Sengketa tanah wida ini 
diselesaikan melalui hukum adat yang berlaku diwilayah tersebut, lewat perantara Tua 
Adat, dan sengkea ini diselesaikan dengan cara Leko wase yaitu sebuah istilah yang 
digunakan ketika munculnya sengketa. Hal-hal yang dilakukan yaitu, dengan acara 
“kapu manuk lele tuak”yaitu mempersembahkan ayam dan tuak kepada Tua Adat 
kemudian Tua Adat memulai ritual dengan kataa salam untk para leluhur “kepok” dan 
memberikan hak kepada kedua belah pihak untuk menentukan batas tanah dan 
menancapkan batu atau pohon kecil sebagi simbol pembatas untuk kedua pihak.
Kata Kunci: Hukum Adat; Tanah wida; sengketa.</note>
<classification><![CDATA[742.01]]></classification><ministry><![CDATA[74101]]></ministry><studentID><![CDATA[2102010216]]></studentID><identifier type="isbn"><![CDATA[20250528]]></identifier><departementID><![CDATA[Hukum]]></departementID><urlCrossref><![CDATA[]]></urlCrossref><location>
<physicalLocation><![CDATA[Setiadi Repository UPT Perpustakaan Undana]]></physicalLocation>
<shelfLocator><![CDATA[742.01 Tho K]]></shelfLocator>
</location>
<slims:digitals>
</slims:digitals><slims:image><![CDATA[Bag_Huk_Perdata-4.png.png]]></slims:image>
<recordInfo>
<recordIdentifier><![CDATA[33679]]></recordIdentifier>
<recordCreationDate encoding="w3cdtf"><![CDATA[2025-07-15 12:05:15]]></recordCreationDate>
<recordChangeDate encoding="w3cdtf"><![CDATA[2025-07-15 13:51:06]]></recordChangeDate>
<recordOrigin><![CDATA[machine generated]]></recordOrigin>
</recordInfo></mods></modsCollection>