<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" ID="34521">
<titleInfo>
<title><![CDATA[Tata Cara Perkawinan Adat Amanatun Utara (Timor) dalam  Pelaksanaan “Mafe Mamoen “ ditinjau dari Undang-undang Nomor.  16 Tahun 2019 di Kabupaten Timor Tengah Selatan]]></title>
</titleInfo>
<name type="Personal Name" authority="">
<namePart>Omri Yori LInome</namePart>
<role><roleTerm type="text">Pengarang</roleTerm></role>
</name>
<name type="Personal Name" authority="">
<namePart>RENY REBEKA MASU</namePart>
<role><roleTerm type="text">Dosen Pembimbing 1</roleTerm></role>
</name>
<name type="Personal Name" authority="">
<namePart>A Resopijani</namePart>
<role><roleTerm type="text">Dosen Pembimbing 2</roleTerm></role>
</name>
<name type="Personal Name">
<namePart>A Resopijani</namePart>
<role><roleTerm type="text">Penguji 2</roleTerm></role>
</name>
<name type="Personal Name">
<namePart>Reny Rebeka Masu</namePart>
<role><roleTerm type="text">Penguji 1</roleTerm></role>
</name>
<name type="Personal Name">
<namePart>Dr. Simplexius Asa, S.H.,M.H.</namePart>
<role><roleTerm type="text">Ketua Penguji</roleTerm></role>
</name>
<typeOfResource manuscript="yes" collection="yes"><![CDATA[mixed material]]></typeOfResource>
<genre authority="marcgt"><![CDATA[bibliography]]></genre>
<originInfo>
<place><placeTerm type="text"><![CDATA[Kupang]]></placeTerm></place>
<publisher><![CDATA[UPT Perpustakaan Undana]]></publisher>
<dateIssued><![CDATA[2025]]></dateIssued>
<issuance><![CDATA[monographic]]></issuance>
<edition><![CDATA[Published]]></edition>
</originInfo>
<language>
<languageTerm type="code"><![CDATA[id]]></languageTerm>
<languageTerm type="text"><![CDATA[Indonesia]]></languageTerm>
</language>
<itemType>
<itemTypeTerm type="code"><![CDATA[]]></itemTypeTerm>
<itemTypeTerm type="text"><![CDATA[Skripsi]]></itemTypeTerm>
</itemType>
<copyright>
<copyrightTerm type="code"><![CDATA[6]]></copyrightTerm>
<copyrightTerm type="text"><![CDATA[Individu Penulis]]></copyrightTerm>
</copyright>
<physicalDescription>
<form authority="gmd"><![CDATA[Skripsi]]></form>
<extent><![CDATA[XV + 46 hal]]></extent>
</physicalDescription>
<note>Secara keseluruhan Desa Nasi di tinjau dari topografi wilayah berbukit dan 
pegunungan dengan ketinggian 726 km dan rata-rata curah hujan 15-20% pertahun. 
Sebagian mata pencaharian masyarakat adalah sebagai petani dan peternak dengan 
seluas lahan 670 ha/kk. Nusa Tenggara Timur memiliki beraneka ragam budaya seperti 
upacara adat yang tentunya berbeda antar satu daerah dengan daerah lainnya. 
Permasalahan pokok dalam penelitian ini adalah (1) Bagaimana tata cara perkawinan 
suku adat Timor Amanatun Utara dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya menurut 
UU No. 16 Tahun 2019? (2) Bagaimanakah upaya yang dilakukan tokoh adat dalam 
melestarikan tata cara perkawinan suku Timor Amanatun Utara sesuai dengan UU No. 
16 Tahun 2019? (3) Bagaimana dampak dari perkawinan suku adat Timor (Amanatun 
Utara) yang tidak sesuai dengan UU No. 16 Tahun 2019?
Penelitian ini merupakan penelitian empiris, sehingga sumber data yang di 
gunakan adalah sumber data primer yang di peroleh dari lapangan dan sekunder yang 
di peroleh dari kepustakaan.
Hasil penelitian ini menunjukan bahwa (1) Tatacara perkawinan adat di 
Amanatun adalah Bertemu untuk makan sirih pinang (mahine atau makahina), 
Peminangan (Tam Hen Tote), Pemberkatan nikah (Leutus), (2) Upaya dalam 
melestarikan pernikahan adat di Suku Amanatun Utara (Timor) Dengan cara menjaga 
kebudayaan yang ada di desa Nasi, tua-tua adat tidak mengijinkan budaya lain masuk 
kedesa nasi, apa lagi mengambil bagian dalam pelaksanaan adat. (3)Dampak dari dari 
perkawinan suku adat yaitu terjadi peristiwa yang tidak terduga seperti “lasi maten” 
atau ada kematian ,atau juga terjadi “kan muifa ana” tidak memiliki keturunan. Jadi 
kesimpulan yang ada yaitu jika salah melakukan perkawinan adat bisa terjadi hal-hal 
mistis.
Kata Kunci: Tatacara perkawinan Adat Amanatun Utara (Timor)</note>
<classification><![CDATA[742.01]]></classification><ministry><![CDATA[74201]]></ministry><studentID><![CDATA[1802010014]]></studentID><identifier type="isbn"><![CDATA[20250625]]></identifier><departementID><![CDATA[Hukum]]></departementID><urlCrossref><![CDATA[]]></urlCrossref><location>
<physicalLocation><![CDATA[Setiadi Repository UPT Perpustakaan Undana]]></physicalLocation>
<shelfLocator><![CDATA[742.01 Lin T]]></shelfLocator>
</location>
<slims:digitals>
<slims:digital_item id="35856" url="" path="/74201-S1-1802010014-2025-SKRIPSI.pdf" mimetype="application/pdf"><![CDATA[Tata Cara Perkawinan Adat Amanatun Utara (Timor) dalam  Pelaksanaan “Mafe Mamoen “ ditinjau dari Undang-undang Nomor.  16 Tahun 2019 di Kabupaten Timor Tengah Selatan]]></slims:digital_item>
</slims:digitals><slims:image><![CDATA[Bag_Hk_Acara.png.png]]></slims:image>
<recordInfo>
<recordIdentifier><![CDATA[34521]]></recordIdentifier>
<recordCreationDate encoding="w3cdtf"><![CDATA[2025-07-25 11:49:04]]></recordCreationDate>
<recordChangeDate encoding="w3cdtf"><![CDATA[2025-07-25 11:49:04]]></recordChangeDate>
<recordOrigin><![CDATA[machine generated]]></recordOrigin>
</recordInfo></mods></modsCollection>