<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" ID="34719">
<titleInfo>
<title><![CDATA[ANALISIS PEMBELISAN DALAM PERKAWINAN ADAT SUKUKODI  KABUPATEN SUMBA BARAT DAYA NTT]]></title>
</titleInfo>
<name type="Personal Name" authority="">
<namePart>Zeanette Tiana Kaha</namePart>
<role><roleTerm type="text">Pengarang</roleTerm></role>
</name>
<name type="Personal Name" authority="">
<namePart>HELSINA FRANSISKA PELLO</namePart>
<role><roleTerm type="text">Dosen Pembimbing 2</roleTerm></role>
</name>
<name type="Personal Name" authority="">
<namePart>Orpa J Nubatonis</namePart>
<role><roleTerm type="text">Dosen Pembimbing 1</roleTerm></role>
</name>
<name type="Personal Name">
<namePart>Yossie M. Y. Jacob, SH. M. Hum</namePart>
<role><roleTerm type="text">Penguji 2</roleTerm></role>
</name>
<name type="Personal Name">
<namePart>Helsina F. Pello, S.H., M.Hum</namePart>
<role><roleTerm type="text">Penguji 1</roleTerm></role>
</name>
<name type="Personal Name">
<namePart>Dr. Orpa J. Nubatonis, S.H., M. Hum.</namePart>
<role><roleTerm type="text">Ketua Penguji</roleTerm></role>
</name>
<typeOfResource manuscript="yes" collection="yes"><![CDATA[mixed material]]></typeOfResource>
<genre authority="marcgt"><![CDATA[bibliography]]></genre>
<originInfo>
<place><placeTerm type="text"><![CDATA[Kupang]]></placeTerm></place>
<publisher><![CDATA[UPT Perpustakaan Undana]]></publisher>
<dateIssued><![CDATA[2025]]></dateIssued>
<issuance><![CDATA[monographic]]></issuance>
<edition><![CDATA[Published]]></edition>
</originInfo>
<language>
<languageTerm type="code"><![CDATA[id]]></languageTerm>
<languageTerm type="text"><![CDATA[Indonesia]]></languageTerm>
</language>
<itemType>
<itemTypeTerm type="code"><![CDATA[]]></itemTypeTerm>
<itemTypeTerm type="text"><![CDATA[Skripsi]]></itemTypeTerm>
</itemType>
<copyright>
<copyrightTerm type="code"><![CDATA[31]]></copyrightTerm>
<copyrightTerm type="text"><![CDATA[Individu Penulis]]></copyrightTerm>
</copyright>
<physicalDescription>
<form authority="gmd"><![CDATA[Skripsi]]></form>
<extent><![CDATA[viii + 44 hal]]></extent>
</physicalDescription>
<note>Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pembelisan dalam perkawinan adat suku kodi kabupaten Sumba Barat Daya NTT. Di antara berbagai suku yang ada di Indonesia, perkawinan merupakan tradisi dengan adat istiadat yang ketat dan terikat pada seluruh tatanan sosial masyarakat. Jika aturan-aturan biasa tidak dipatuhi, perkawinan dapat batal. Salah satu daerah yang sampai saat ini masih mempertahankan adat istiadat perkawinan dalam tatanan masyarakat yaitu pulau Sumba. Pulau Sumba merupakan pulau di Provinsi Nusa Tenggara Timur yang terbagimenjadi empat Kabupaten yaitu Kabupaten Sumba Timur, Sumba Tengah, Sumba Barat dan Sumba Barat Daya. Daya adaptasi masyarakat Sumba dalam memenuhi rangkaian kehidupan telah mewujudkannya sebagai tradisi dalam kehidupan sehari dalam berbagai upacara kelahiran, upacara perkawinan, upacara penyambutan atau penghormatan, serta upacara kematian dan pemakaman. Salah satu upacara perkawinan adat pada masyarakat Sumba adalah pemberian mahar (belis). Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian hukum empiris, yang melibatkan wawancara dengan berbagai pihak. Hasil penelitian menunjukan bahwa belis merupakan penghormatan kepada pihak perempuan dan kesanggupan pihak laki-laki dalam memenuhi aturan adat perkawinan yang berlaku, serta tahapan-tahapan yang sesuai dengan aturan adat yang dimana ada 3tahapan penting. Standar belis dalam aturan adat yang berlaku adalah 10 ekor atau bisa lebih tergantung balasan apa yang diberikan pihak perempuan, jadi tidak ada pihak yang dirugikan. Yang membedakan belis suku Kodi dari yang lain terletak dihewan belis yang harus dibawa saat tahapan terakhir atau pengantaran hewan belis yaitu 1 induk kerbau dan anak kerbau sebagai pengiring hewan belis yang lain. Namun terdapat hambatan dalam pelaksanaan pembelisan yaitu kurangnya hewan belis oleh karena itu persoalan tersebut harus diselesaikan ditikar adat oleh para moderamen yang dipercaya untuk melakukan proses pembicaran adat, faktor ekonomi juga menjadi penghambat kurangnya jumlah belis yang disepakati, karena laki-laki akan berusaha mendapatkan hewan untuk melunasi jumlah hewan yang belum habis. Cara menyelesaikan hambatan tersebut ialah ditikar adat oleh para moderamen yang dipercaya untuk melakukan proses pembicaran adat, faktor ekonomi juga menjadi penghambat kurangnya jumlah belis yang disepakati, karena laki-aki akan berusaha mendapatkan hewan untuk melunasi jumlah hewan yang belum habis.
Kata Kunci: Belis; Perkawinan Adat; Suku Kodi.</note>
<classification><![CDATA[742.01]]></classification><ministry><![CDATA[74101]]></ministry><studentID><![CDATA[2102010473]]></studentID><identifier type="isbn"><![CDATA[20250723]]></identifier><departementID><![CDATA[Ilmu Hukum]]></departementID><urlCrossref><![CDATA[]]></urlCrossref><location>
<physicalLocation><![CDATA[Setiadi Repository UPT Perpustakaan Undana]]></physicalLocation>
<shelfLocator><![CDATA[742.01 Kah A]]></shelfLocator>
</location>
<slims:digitals>
</slims:digitals><slims:image><![CDATA[Bag_Huk_Perdata-4.png.png]]></slims:image>
<recordInfo>
<recordIdentifier><![CDATA[34719]]></recordIdentifier>
<recordCreationDate encoding="w3cdtf"><![CDATA[2025-08-01 03:32:13]]></recordCreationDate>
<recordChangeDate encoding="w3cdtf"><![CDATA[2025-08-01 13:48:33]]></recordChangeDate>
<recordOrigin><![CDATA[machine generated]]></recordOrigin>
</recordInfo></mods></modsCollection>