<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" ID="7319">
<titleInfo>
<title><![CDATA[DEOTORISASI OTORITAS MOSALAKI RIABEWA (Studi kasus di Desa Wololele A, Kecamatan Lio Timur, Kabupaten Ende)]]></title>
</titleInfo>
<name type="Personal Name" authority="">
<namePart>Gabriela Alexia</namePart>
<role><roleTerm type="text">Pengarang</roleTerm></role>
</name>
<name type="Personal Name" authority="">
<namePart>Lasarus Jehamat, S.Sos, MA</namePart>
<role><roleTerm type="text">Dosen Pembimbing 2</roleTerm></role>
</name>
<name type="Personal Name">
<namePart>Lasarus Jehamat, S.Sos, MA</namePart>
<role><roleTerm type="text">Penguji 1</roleTerm></role>
</name>
<name type="Personal Name">
<namePart>Drs. Yosep E. Jelahut, M.Si</namePart>
<role><roleTerm type="text">Ketua Penguji</roleTerm></role>
</name>
<name type="Personal Name">
<namePart>Blajan Konradus</namePart>
<role><roleTerm type="text">Penguji 2</roleTerm></role>
</name>
<typeOfResource manuscript="yes" collection="yes"><![CDATA[mixed material]]></typeOfResource>
<genre authority="marcgt"><![CDATA[bibliography]]></genre>
<originInfo>
<place><placeTerm type="text"><![CDATA[Kupang]]></placeTerm></place>
<publisher><![CDATA[UPT PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS NUSA CENDANA]]></publisher>
<dateIssued><![CDATA[2022]]></dateIssued>
<issuance><![CDATA[monographic]]></issuance>
<edition><![CDATA[Published]]></edition>
</originInfo>
<language>
<languageTerm type="code"><![CDATA[id]]></languageTerm>
<languageTerm type="text"><![CDATA[Indonesia]]></languageTerm>
</language>
<itemType>
<itemTypeTerm type="code"><![CDATA[]]></itemTypeTerm>
<itemTypeTerm type="text"><![CDATA[]]></itemTypeTerm>
</itemType>
<copyright>
<copyrightTerm type="code"><![CDATA[2]]></copyrightTerm>
<copyrightTerm type="text"><![CDATA[Individu Penulis]]></copyrightTerm>
</copyright>
<physicalDescription>
<form authority="gmd"><![CDATA[Skripsi]]></form>
<extent><![CDATA[xii + 106 hal]]></extent>
</physicalDescription>
<note>Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis fenomena terjadinya deotorisasi otoritas Ria Bewa di Desa Wololele A, Kecamatan Lio Timur, Kabupaten Ende. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori Tindakan Sosial dan teori Otoritas dari Max Weber. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis penelitian kualitatif pada informan di lapangan dengan menghasilkan data secara deskriptif yakni tetang fenomena penyebab terjadinya deotorisasi otoritas Ria Bewa di Desa Wololele A, Kecamatan Lio Timur, Kabupaten Ende. Informan dalam penelitian ini berjumlah 10 orang, yang terdiri dari Ria Bewa, Pejabat adat, dan masyarakat biasa. Data yang diperoleh melalui observasi wawancara dengan informan , serta studi dokumentasi dengan menggunakan teknik purposive sampling. Hasil penelitian ini yaitu adanyafenomena yang menunjukan terjadinya  deotorisasi otoritas Ria Bewa, seperti  sikap masyarakat desa yang tidak menghargai dan menghormati Ria Bewa sebagai ketua adat mereka dengan perbuatan yang sering terjadi yaitu mengambil alih peran Ria Bewa dalam upacara adat, menyempitnya tanah kekuasaan Ria Bewa, sampai dengan melupakan jasa dan martabat seorang Ria Bewa. Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya deotorisasi otoritas Ria Bewa yaitu faktor eksternal seperti pendidikan dan merantau menjadikan masyarakat desa memiliki pola pikir lebihmaju. Yang berikutnya faktor  internal seperti adanya sikap serakah dan rakus akan jabatan dan otoritas menjadikan masyarakat ingin melengserkan Ria Bewa. Oleh karena itu saran dari penelitian ini adalah yang pertamauntuk Ria Bewa agar melakukan sosialisasi mengenai pentingnya menjaga dan melestarikan adat dan tradisi di desa yang sudah ada sejak jaman nenek moyang agar tidak luntur akibat perkembangan jaman karena dengan hal ini dapat mengurangi kemungkinan terjadinya deotorisasi Ria Bewa karena masyarakat masih mempercayai kepemimpinan tradisional yang sudah ada sejak dulu, selain ituAgar lebih adil dan bijaksana dalam pembagian lahan kepada masyarakat desa, sehingga dapat terhindar dari konflik tentang lahan. Agar Ria Bewa lebih tegas dalam menangani kasus permasalahan masyarakat yang memberontak atau melawan, seperti memberi sanksi yang tegas kepada pejabat adat dan masyarakat biasa yang melakukan pelanggaran adat yaitu mengambil alih, memimpin ritual adat yang seharusnya dipimpin oleh Ria bewa, agar mereka jerah dan tidak melakukannya lagi. Yang kedua untuk masyarakat Desa Wololele A Diharapkan agar lebih menghargai dan menghormati Ria Bewa sebagai pemimpin adat tertinggi di desa mereka, karena itu merupakan warisan dari nenek moyang.</note>
<classification><![CDATA[692.01]]></classification><ministry><![CDATA[69201]]></ministry><studentID><![CDATA[1703030061]]></studentID><identifier type="isbn"><![CDATA[20220606]]></identifier><departementID><![CDATA[Sosiologi]]></departementID><urlCrossref><![CDATA[]]></urlCrossref><location>
<physicalLocation><![CDATA[Setiadi Repository UPT Perpustakaan Undana]]></physicalLocation>
<shelfLocator><![CDATA[692.01 Ale D]]></shelfLocator>
</location>
<slims:digitals>
<slims:digital_item id="9642" url="" path="/69201-1703030061-S1-2022-SKRIPSI.pdf" mimetype="application/pdf"><![CDATA[DEOTORISASI OTORITAS MOSALAKI RIABEWA (Studi kasus di Desa Wololele A, Kecamatan Lio Timur, Kabupaten Ende)]]></slims:digital_item>
</slims:digitals><slims:image><![CDATA[Cover_Skripsi_Sosiologi.png.png]]></slims:image>
<recordInfo>
<recordIdentifier><![CDATA[7319]]></recordIdentifier>
<recordCreationDate encoding="w3cdtf"><![CDATA[2022-07-11 10:35:59]]></recordCreationDate>
<recordChangeDate encoding="w3cdtf"><![CDATA[2022-07-20 10:28:29]]></recordChangeDate>
<recordOrigin><![CDATA[machine generated]]></recordOrigin>
</recordInfo></mods></modsCollection>