Disertasi
Strategi Penyediaan Air Dari Sumberdaya Air Terbatas Di Lahan Kering Semi Arid Pada Pertanian Terpadu Berbasis Ternak Sapi Bali Dan Kambing Kacang
XMLmemiliki curah hujan tahunan rata-rata tahunan sebesar 1.859 mm. Kecamatan Amarasi masuk dalam zone D dan E, klasifikasi iklim Oldeman. Pada zone tersebut ekosistem didominasi oleh bioma sabana. Praktek baik pemanfaatan sumber daya air terbatas dengan penanaman tanaman pakan ternak berupa legume dan rumput-rumputan disamping tanaman pangan dalam pertanian lahan kering integrasi, serta pembentukan ekosistem “mamar” sudah dilakukan di beberapa wilayah, namun integrasi tanaman-ternak “Crop-Livestock System " yang dilakukan, masih belum optimal, karena luas lahan yang belum diolah, hanya 50,54% atau seluas 7.837,9 Ha dari luas wilayah Kecamatan Amarasi seluas 15.509 Ha (BPS, 2023).
Kurang optimalnya pemanfaatan lahan disebabkan tidak tersedianya air pada musim kemarau bagi budidaya tanaman pangan, holtikultura dan pakan ternak. Oleh karena itu diperlukan upaya penyediaan sumber daya air, melalui mekanisme penampungan air hujan agar dapat digunakan pada musim kemarau. Oleh karena itu dilakukan penelitian yang berjudul “Strategi penyediaan air dari sumberdaya air terbatas di lahan kering semi arid pada pertanian terpadu berbasis ternak sapi bali dan kambing kacang”. Penelitian ini bertujuan untuk : 1). Menentukan besar ketersedian air seri waktu bulanan dari curah hujan dan debit andalan serta tampungan alami dan buatan, di wilayah Amarasi. 2). Menentukan besar kebutuhan air seri waktu bulanan bagi kepentingan rumah tangga, minum ternak dan irigasi 3). Menentukan besar nisbah ketersediaan dan kebutuhan air domestic, budidaya ternak dan irigasi di wilayah Kecamatan Amarasi. 4). Mengetahui praktek pemanfaatan air berasal dari hujan, aliran sungai dan tampungan bagi budidaya tanaman pangan, holtikultura dan tanaman pakan. 5). Menentukan besar kebutuhan air tanaman pada budidaya tanaman pangan jagung, lamtoro dan rumput raja pada satu unit usaha. 6). Mendisain strategi pemanfaatan sumber daya air bagi sistem pertanian terpadu dengan sapi bali dan kambing kacang sebagai komponen sistem dalam budidaya tanaman-ternak yang berkelanjutan. Untuk mencapai tujuan tersebut dilakukan penelitian dalam 4 tahap penelitian, dimana pada tahap 1 dan tahap 2, digunakan metode deskritif kuantitatif, pada penelitian tahap 3, digunakan motede disain eksperimen (perancangan percobaan) dan pada tahap 4 mengguna metode deskritif kuntitatif,
Hasil peneltian tahap 1, menujukan bahwa ketersediaan air berasal dari curah hujan efektif, debit andalan dan tampungan berupa danau dan embung, terbesar pada bulan Januari sebesar 19,71 juta m3 dan terrendah pada bulan Agustus sebesar 0,443 juta m3 dengan total tahunan sebesar 103,75 juta m3. Total kebutuhan air domestik, minum ternak sapi, kuda, kerbau, kambing, domba dan babi, irigasi tanaman padi sawah, ladang dan irigasi budidaya pakan bulanan tertinggi pada bulan November sebesar 3,90 juta m3, dan terrendah pada bulan September sebesar 1,27 juta m3, dengan total kebutuhan tahunan sebesar 22,80 juta m3. Indeks ketersediaan air bulanan, dengan kondisi hidrologi baik (NiIai indeks < 25), terdapat pada bulan : Januari, Februari, Maret, April dan Desember. Kondisi hidrologi kritis ringan (25 – 50), terdapat pada bulan : Mei, Oktober dan November. Kondisi hidrologi kritis (50 – 100), terdapat pada bulan : Juni, Juli, September, dan kondisi kritis berat/buruk (NI >100) terdapat pada bulan Agustus.
Hasil penelitian tahap 2, menunjukan bahwa : terdapat 56,17% masyarakat masih melakukan aktivitas tani-ternak dengan budidaya tanaman pangan semusim di ladang/kebun mengandalkan curah hujan. Petani-peternak yang melaksanakan aktivitas tani-ternaknya dengan memanfaatkan sumberdaya air yang tersedia pasca hujan sebesar 43,83%. Sumber air yang digunakan berupa aliran sungai, mata air, sumur dangkal, danau dan embung. Tanaman yang dibudidayakan berupa tomat, buncis, cabai, petsai kumbang, jagung manis/pulut, tanaman sayur dan tanaman pakan rumput raja. Sumber air yang dimanfaatkan untuk minum ternak sapi, kerbau dan kuda bersumber dari sungai, mata air dan sumur. Untuk minum ternak kambing bersumber dari sungai, mata air, sumur dan embung/danau. Terdapat dua pola usaha tani yang memanfaatkan air pasca hujan yaitu : 1). Budidaya jagung, kacang-kacangan, labuh, turis dan budidya holtikultura (tomat, buncis, petsai, bawang merah, cabai dan tanaman sayur. 2). Budidaya jagung, kacang-kacangan, labuh, turis, pakan ternak ruminansia dan budidaya holtikultura berupa tomat, buncis, petsai, bawang merah, cabai dan tanaman sayur. Tanaman pakan yang dibudidayakan oleh petani di Amarasi berupa tanaman lamtoro (100%) dan rumput raja (63%).
Hasil peneltian tahap 3, menunjukan bahwa : perlakuan pemberian air 60%, 90% dan 120% dari Evapotranspirasi potensial (ETp) dan dengan pola tanam dan interaksinya berpengaruh nyata (P < 0,05) terhadap : tinggi tanaman jagung, jumlah tunas tanaman rumput raja, total produksi biomassa, produktivitas air dan kandungan serat biomassa tanaman lamtoro. Pemberian air berpengaruh nyata (P < 0,05), terhadap pola tanam dan interkasinya berpengaruh tidak nyata (P > 0,05) terhadap: kadar air tanah akhir (lengas), tinggi tanaman rumput raja, jumlah daun tanaman jagung, jumlah daun tanaman rumput raja, kandungan serat kasar tanaman jagung, kandungan serat kasar tanaman rumput raja. Pemberian air dan pola tanam berpengaruh nyata, interaksinya berpengaruh tidak nyata (P > 0,05) terhadap : tinggi tanaman rumput raja, protein kasar tanaman lamtoro. Pemberian air, pola tanam dan interakasinya perpengaruh tidak nyata (P > 0,05) terhadap : tinggi tanaman lamtoro, jumlah cabang tanama lamtoro, kandungan serat kasar biomassa lamtoro, protein kasar biomassa jagung, protein kasar biomassa rumput raja. Kombinasi perlakuan terbaik diberikan oleh penggunaan air 90% dari ETp (7,62 liter/m2) dan pola polikultur jagung, rumput raja dan lamtoro, karena memberikan produksi biomassa dan produktivitas air optimal.
Hasil penelitian tahap 4, menunjukan bahwa untuk mengatasi defisit air pada musim kemarau maka jumlah embung yang dapat dibuat: 1). berdasarkan ketersediaan air sebanyak 128 buah dengan kapasitas tamping 100.000 m3. 2). Berdasarkan kebutuhan air sebanyak 17 buah dengan kapasitas tampung 50.000 m3, dengan prediksi berdasarkan kenaikan populasi manusia dan ternak pada 1 dekade mendatang sebesar 20 buah embung dengan kapasitas tampung 50.000 m3. 3). Langkah strategi yang harus disiapkan adalah : a). Menyediakan air di musim kemarau pada bulan-bulan krisis air. b). Menangkap dan memanen air hujan berlimpah yang jatuh di daerah tangkapan dengan embung atau bangunan sejenis. c). Melakukan ekstensifikasi bagi budidaya tanaman pangan hortikultura dan tanaman pakan. d). Membatasi penebangan liar dengan pembuatan dan penerapan Peraturan Desa. e). Melakukan budidaya tanaman pangan dan pakan dengan mengindahkan kaidah konservasi (usaha tani konservasi) dan f).Menerapkan konsep integrasi tani-
Detail Information
| Item Type |
Disertasi
|
|---|---|
| Penulis |
MARTEN LUTER LANO - Personal Name
|
| Student ID |
1712010003
|
| Dosen Pembimbing |
FRANS UMBU DATTA - 196002091987031003 - Dosen Pembimbing 1
Ludji M. Riwu Kaho - 196307241987021002 - Dosen Pembimbing 2 |
| Penguji |
Maria Krova - 19630830198803200 - Ketua Penguji
Nikodemus P. P. E. Nainiti - - Penguji 1 Markus Miten Kleden - 19640421199003100 - Penguji 2 |
| Kode Prodi PDDIKTI |
54231
|
| Edisi |
Published
|
| Departement |
Ilmi Peternakan
|
| Kontributor | |
| Bahasa |
Indonesia
|
| Penerbit | UPT Perpustakaan Undana : Kupang., 2025 |
| Edisi |
Published
|
| Subyek | |
| No Panggil |
540.31 LAN S
|
| Copyright |
Individu Penulis
|
| Doi |







